Ekstrak Cacing Haram?

Ekstrak Cacing Haram?

Sudah tiga hari saya sakit typhus, penyebabnya mungkin bisa dikarenakan makanan yang saya konsumsi, entah itu kotor, pedas atau asam. Saya memang pernah sakit typhus sebelumnya, gejalanya sama dan kata dokter typhus itu akan terus muncul jika sudah terkena.

Pada saat sakit yang pertama saya disarankan oleh dokter untuk memakan Vermint ekstrak cacing dalam bentuk kapsul, obat herbal yang bisa didapatkan di apotek-apotek terdekat. Ini adalah tambahan penyembuhan selain obat-obatan dari dokter.

Saat itu juga saya bergegas ke apotek terdekat untuk membelinya. Saya konsumsi kapsul cacing tersebut dan obat-obatan dari dokter. Hasilnya alhamdulillah saya sembuh dalam seminggu.

Beberapa bulan kemudian saya mendapat informasi dari istri saya bahwa ekstrak cacing dalam bentuk kapsul ternyata haram untuk dikonsumsi. Alasannya bahwa cacing termasuk hewan yang diharamkan untuk dikonsumsi, dilihat dari kehidupannya dan “jijik” jika dimakan.

Apakah benar begitu? Saya mencoba untuk mencari tahu apakah ekstrak cacing untuk penyembuhan sakit typhus ini memang haram dikonsumsi? Berikut penelusurannya.

Berdasarkan keterangan sebuah laman tertulis sebagai berikut :

“www.suaradokter.com

Vermint adalah obat tradisional dari ekstrak cacing tanah jenis Lumbricus rubellus yang berasal dari Eropa. Jenis lokal, Pheretima aspergillum, yang dikenal dengan nama cacing kalung, banyak digunakan dalam pengobatan tradisional anak negeri untuk menawar demam.

Sebenarnya penggunaan cacing tanah sebagai obat sudah dimulai sejak tahun 4000 SM oleh bangsa Cina. Ia tercatat dalam Bencao Gang Mu sebagai pu shuks yang di kalangan awam disebut naga tanah atau ti lung kam. Khasiat yang disebutkan beragam seperti melancarkan air seni (diuresis), menetralkan bisa gigitan laba-laba, mengobati sakit malaria, membasmi cacing pita, mengobati sakit kuning dengan perut buncit, meredakan demam dan kejang demam dan menyembuhkan stroke.

Di zaman kembali ke alam ini, cacing tanah (earth worm) digunakan sebagai antitrombosis di Korea Selatan, Cina dan Vietnam; bahan makanan di Jepang, Hongaria, Thailand, Filipina dan Amerika Serikat; pertumbuhan kanker di Amerika Serikat; dan makanan obat di berbagai negara Asia Afrika. Di Jepang dikenal vermijuice dan di Eropa, worm burger, worm spagheti, crispy earthworm dan verne de terre

Kehalalan Vermint, difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia dengan Surat Keputusan nomor: Kep-139/ MUI/ IV/ 2000 dan persetujuan untuk digunakan sebagai obat tradisional oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dengan Surat keputusan nomor: 0357/ Reg/ B/ 2002″

Ternyata berdasarkan keterangan di atas Vermint ini telah mendapatkan sertifikasi halam MUI diperkuat juga oleh BPOM. Memang sih pas saya lihat di botolnya ada tertera label halal MUI, tapi saya belum mengecek kebenarannya ke MUI. Apakah sertifikat ini bersifat umum atau memang khusus untuk Vermint itu sendiri.

Kita lihat bagaimana pandangan MUI mengenai makan cacing secara umum

“www.generasimuslim.com

“Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-139/MUI/IV /2000 Tentang Makan Dan Budidaya Cacing Dan Jangkrik Majelis Ulama Indonesia, setelah :

Menimbang:

Bahwa budidaya cacing dan jangkrik kini banyak dilakukan orang, baik untuk makanan (pakan) hewan tertentu, obat-obatan, jamu dan kosmetik, maupun untuk dikonsumsi (dimakan orang).
Bahwa masyarakat memerlukan penjelasan tentang hukum membudidayakan, makan, dan memanfaat-kan kedua jenis binatang tersebut.
Bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat.

Memperhatikan:

Makalah Budidaya Cacing dan Jangkrik dalam Kajian Fiqh yang dipresentasikan oleh Dr. KH. Ahmad Munif, pada sidang Komisi Fatwa MUI, tanggal.
Pandangan ahli budidaya cacing dan jangkrik yang disampaikan pada sidang Komisi Fatwa MUI, tanggal.
Pandangan peserta sidang Komisi Fatwa MUI
Mengingat :

1. Firman Allah SWT: “Allah-lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu sekalian” (QS. al-Baqarah [2]: 29).

“Allah menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi (sebagai rahmat) dari-Nya” (QS, al-Jasiyah: 13)·

“Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman: 20).

2. Hadist Nabi SAW : “Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitabNya (al-Qur’an) adalah halal, apa-apa yang diharamkan-Nya, hukumnya haram, dan apa-apa yang Allah diamkan / tidak dijelaskan hukumnya, dimaafkan. Untuk itu terimalah pemaafan-Nya, sebab Allah tidak pernah lupa tentang sesuatu apa pun” (HR. Al-Hakim).

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu sia-siakan, menentukan beberapa ketentuan, janganlah kamu langgar, mengharamkan beberapa hal, janganlah kamu rusak; dan Allah tidak menjelaskan hukum beberapa hal karena kasih sayang kepadamu, bukan karena lupa, janganlah kamu cari-cari hukumnya.” (HR. Turmuzi dan Ibn Majah)

3. Kaidah fiqh : “Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah / harus.

MEMUTUSKAN

Menetapkan: Fatwa Tentang Makan dan Budidaya Cacing dan Jangrik

Pertama : Hukum yang berkaitan dengan cacing.

Cacing adalah salah satu jenis hewan yang masuk ke dalam kategori Al-Easyarat
Membenarkan adanya pendapat ulama (Imam Malik, Ibn Abi Laila dan al-Auza’i) yang menghalalkan memakan cacing sepanjang bermanfaat dan tidak membahayakan dan pendapat ulama yang mengharamkan memakannya.
Membudidayakan cacing untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan, tidak bertentangan dengan hukum Islam.
Membudidayakan cacing untuk diambil sendiri manfaatnya, untuk pakan burung misalnya, tidak untuk dimakan atau dijual, hukumnya boleh (mubah).
Kedua : Hukum yang berkaitan dengan jangkrik.

Jangkrik adalah binatang serangga yang sejenis dengan belalang.
Membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk obat/kosmetik misalnya, untuk dimakan atau dijual, hukumnya adalah boleh (mubah, halal), sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal 18 April 2000

Ketua Komisi Fatwa :

Prof KH. Ibrahim Hosen

Sekretaris Umum :

Drs. Hasanudin, M.Ag

Dari penjabaran di atas, apakah bisa dikatakan bahwa jika cacing itu bermanfaat maka halal baginya untuk dimakan? Terlepas dari rasa jijik jika dimakan langsung. Wallohu`alam. Mungkin karena masih terbatasnya pengetahuan penulis tentang hukum fiqih jadi jawabannya mengambang.

sumber : disini http://udinghermara.wordpress.com/2009/05/15/ekstrak-cacing-haram/

14 responses to “Ekstrak Cacing Haram?

  1. saya pikir tidak, karena dilihat pula dari bagaimana islam melarang sesuatu yang diharamkan pasti ada maksudnya. seperti halnya tidak boleh mengonsumsi babi karena daging babi yg bersemai cacing dan dapat membahayakan manusia jika dimakan, selain itu kandungan lemak babi bisa mengganggu keseimbangan asupan gizi untuk tubuh karena kandungannya adalah lemak jenuh.
    sesuatu bisa dijadikan obat bila lebih besar manfaatnya untuk manusia dibandingkan akibat negatif yg ditimbulkannya. jadi, bagaimana tubuh anda stelah meminum obat dari cacing itu?

  2. Bicara halal atau haram. Secara fatwa boleh MUI bilang cacing tanah halal. Tapi apabila secara taqwa ya tergantung ketaqwaan seseorang. Tapi apa engga ada obat lain selain cacing, yang memang awal mulanya hukumnya ragu2. Misalnya habattusauda, obat itu juga Insha Allah manjur. Badan sehat dapat pahala sunah pula. Jadi kalo menurut saya jangan dibikin susah aja yak. Thanx

  3. saya sudah makan obat itu memang hasilnya dashyat sekali terima kasih cacing

  4. Masih mengambang antara halal dan haramnya mengkonsumsi cacing tanah. Namun dilihat dari segi kegunaannya cacing tanah lebih banyak manfaatnya.

  5. Bismillah ..

    Saya pernah dengar pengajian, hukum darurat makanan haram jadi halal, babi, ular dsb. apakah sakit itu tidak termasuk darurat ? Bukankah obat dari dokter juga kita tidak tau derajatnya ? memang semua serba ilmiah tapi itu dari ilmu barat. Apakah pertimbangan halal haram mereka pakai ketika meracik senyawa yg namanya aneh2 itu? Selama itu kata dokter kenapa kita gak pernah ragu meminumnya ?

  6. babi haram ya haram… bukan krn ada cacingnya jadi haram.. tidak ada sedikitpun penjelasan yang menghubungkan haram krn ada cacingnya. di hati sapi juga ada cacicingnya.. Allah mengharamkan dan hikmahnya kita dapat terjaga dari kemungkinan kena cacing… kalau sesempit itu, ketika direbus bisa jadi halal.. atau kalau dikembangkan peternakan babi steril bisa jadi halal seperti analisanya orang nasrani di mana di perjanjian lama babi juga di larang tapi di perjanjian baru babi boleh dengan hati-hati.

    tentang cacing, tidak ada satupung keterangan tentang pengharaman cacing.. yang ada adalah pengharaman binatang menjijikkan… cacing wawo ato palolo yang bagi masyarakat setempat sangat biasa dimakan turun temurun siapa yang mengharamkan? menjijikkan? kata siapa? paling kata para pendatang yang tidak biasa makan cacing wawo dan palolo.. kalo maksa makan bisa mual muntah dll dan berefek negatif karena psikologis… kalo dah biasa ya enak2 aja..
    kapsul cacing… kalau sudah bersertifikat halal MUI ga perlu dibahas lg. emang dalil kita lebih lengkap dari majelis yang terdiri dari ahli-ahli fiqh..

  7. Misbach Abdillah

    klo q sch ngikut fatwa MUI ja,toh klo trnyta hrm yg brdosa kn mrk2 yg mmbuat fatwa . . .

  8. mmng benar ada obat lain tapi ada obat2 tertentu yang segi kemujarabannya lebih tinggi , mis untuk demam gamat lebih cocok dari habbsauda, untuk batuk pilek habbasauda sangat bagus, apalagi ditambah gamat, dan untuk tifus, saya sudah satu minggu minum habbassauda+gamat+madu+zaitun, dan masih lemas, keringat dingin, pusing, mual, pucat. secara umum kondisi membaik dari demam, sakit sendi, otot, kepala berputar2, lidah pahit, nyeri ulu hati dll,tapi penyembuhannya ternyata lebih cepat jika ditambahkam resep cacing(vermint) selain herbal2 tadi dan saya tidak perlu istirahat total (sibuk namanya juga housewife).

  9. Imam Ibnu Hazm -rahimahullah- dimana beliau berkata, “Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan yang sejenis dengan mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih” (al maidah :3). Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’i kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih (misalnya ikan dan belalang maka dia boleh dimakan tanpa penyembelihan, pent.)”. (Lihat Al-Muhalla: 7/405)

    Pelajarilah perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu anhum dalam berobat karena mereka adalah generasi terbaik dari umat manusia.

    Apakah mereka pernah mengkonsumsi cacing atau berobat dengan cacing dalam menyembuhkan penyakitnya?

    tidak ada satupun keterangan tentang hal itu.

    Rasulullah adalah manusia yang ma’sum, pendapat beliau selalu benar karena dibimbing langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan beliau berpendapat/berfatwa bahwa cacing itu haram sesuai ayat : “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, hewan yg disembelih dgn atas nama selain Allah, yg tercekik, yg dipukul, yg jatuh, yg ditanduk, & yg diterkam binatang buas, kecuali yg kalian sempat menyembelihnya. Dan diharamkan pula bagi kalian binatang yg disembelih disisi berhala.” (Al-Maidah: 3)

    Lalu, bagaimana dengan fatwa MUI? itu adalah hasil ijtihad manusia dan ijtihad mempunyai 2 kemungkinan. benar dan salah.

    Jika benar sesuai al quran dan sunnah sesuai pemahaman salafus sholeh maka dia mendapat dua pahala dan kaum muslim harus mengikutinya.

    Dan jika salah, maka dia mendapat satu pahala dan jika ada kaum muslim yang mengikutinya maka dia menanggung dosanya pula.

    wallahu ‘alam

  10. sandiginting@yahoo.com

    bicara haram dan tidak haram, tidak akan ada habisnya sampai kapanpun hanya menimbulkan perdebatan yang tak kunjung habisnya. hubuangn Tuhan dengan manusia adalah hubungan pribadi antara Tuhan dan manusia itu sendiri.kenapa harus melibatkan pihak lain. tanya aja Tuhan “ini boleh dimakan ga Tuhan, Dia pasti jawab”
    suwun

  11. Babi haram, celeng gak popo jarene wong meduro

  12. benarkan aja,ibarat klo km kene penyakit tipes trus uda parah obat yg anda km blang bagus uda ngk mempang trus satu2nx jalan dgn minu capsul cacing,ap penderita yg mengangap haram ngk mau minum,??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s